Prof. Pantur Silaban, Ph.D
- Friday Aug 8,2008 11:23 AM
- By san
- In Fisikawan Indonesia
Prof. Pantur Silaban, Ph.D, dilahirkan di Sidikalang, Dairi, Sumartera Utara, tanggal 11 november 1937. Setelah menamatkan SMA, Pantur Silaban merantau ke Jakarta dengan tujuan awal ingin masuk sekolah tinggi teologi. Niatnya ini tidak tercapai karena beliau sakit ketika mempersiapkan diri mengikuti tes masuk sekolah tinggi teologi. Akhirnya ia masuk program studi teknik fisika teoretik Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Bandung (ITB) hingga memperoleh gelar Doktorandus (Drs). Pada tahun 1964 ia diangkat menjadi staf pengajar Jurusan Fisika. Dua tahun kemudian, tepatnya bulan desember 1966, ia memperoleh beasiswa United States Agency For International Developments (USAID) untuk melanjutkan pendidikan di Graduate School, Syracuse University, New York dan menekuni Teori Relativitas Umum. Sekolah itu berada di bawah Universitas Syracuse, New York dan termasyhur sebagai pusat studi gravitasi dan Relativitas Umum yang pertama dan terkemuka di dunia, bahkan sampai saat ini. Gelar Ph.D diperolehnya di universitas yang sama, pada tanggal 12 Juni 1971.
Pantur Silaban adalah orang Indonesia pertama yang mendalami teori peninggalan Einstein tersebut. Untung baginya sebab Bergmann bersedia menjadi ko-pembimbing untuk disertasinya. Dengan demikian, Pantur merupakan fisikawan Indonesia yang berguru langsung kepada murid dan kolega Einstein dalam Relativitas Umum. Ia merupakan satu dari 32 mahasiswa dari seluruh dunia yang mempelajari Relativitas Umum di Syracuse dengan Bergmann sebagai pembimbing atau ko-pembimbing dalam kurun tahun 1947-1982. Tak salah jika orang menyebutnya sebagai cucu murid Einstein. Selain Bergmann, Prof. Pantur Silaban juga dibimbing oleh Joshua N. Goldberg, pembimbing yang lebih muda dari Bergmann, tapi juga raksasa dalam Relativitas Umum. Peter Gabriel Bergmann dan Joshua N. Goldberg adalah otoritas Teori Relativitas Umum setelah pencetusnya, Einstein.
Setahun setelah menyelesaikan disertasinya, Pantur kembali di Bandung pada tahun 1972 dan mengajar di Jurusan Fisika ITB. Sebagai seorang dosen, Pantur adalah pembicara ulung. Ia hadir di kelas hanya dengan membawa kapur. Selalu saja ada ilustrasi-ilustrasi selama kuliahnya untuk memudahkan mahasiswa menangkap konsep fisika yang rumit, demikian juga rasa humornya yang khas. Pantur Silaban dikukuhkan sebagai guru besar ITB dalam fisika teoretis pada Januari 1995. Ia memasuki masa pensiun pada tanggal 11 November 2002.
Prof. Pantur Silaban mempunyai peran yang besar dalam membangun komunitas fisika teori di Indonesia, di mana salah satu anggotanya adalah fisikawan Hans Jacobus Wospakrik (almarhum), yang juga murid Prof. Pantur silaban ketika Hans kuliah di ITB. Sebuah risetnya setelah disertasinya dimuat di Journal of General Relativity and Gravitation. Makalah-makalahnya mengenai teori gravitasi dan fisika partikel elementer juga dimuat di berbagai prosidings dalam dan luar negeri. Sebagai seorang fisikawan teoretis, selain relativitas umum, Pantur juga menekuni fisika partikel elementer. Beberapa kali beliau diundang sebagai pembicara di International Centre for Theoretical Physics (ICTP), Trieste, Italia, yang didirikan fisikawan Pakistan pemenang Nobel Fisika, Abdus Salam.
Karena referensi dalam bahasa Indonesia untuk fisika teori sangat minim, pada tahun 1979 Pantur Silaban menerbitkan buku daras Teori Grup dalam Fisika. Kemudian ia menerbitkan buku Tensor dan Simetri. Pertengahan 1980-an, bekerja sama dengan Penerbit Erlangga, ia menerjemahkan banyak buku tentang teknologi mesin, elektroteknik, dan matematika yang dipakai perguruan-perguruan tinggi terbaik dunia.