Gudang Ilmu Fisika Gratis

Prof. Hans Wospakrik

Prof. Hans Jacobus Wospakrik dilahirkan di Serui, Papua, tanggal 10 september 1951. Setelah menamatkan sekolah menengah, ia melanjutkan pendidikan pada jurusan Pertambangan, Institut Teknologi Bandung (ITB) tahun 1971. Karena tidak diminatinya, Hans pindah ke jurusan Fisika dan menyelesaikan pendidikan sarjananya pada tahun 1976. Pada akhir tahun 1970-an, ia pergi ke Belanda dalam rangka menyelesaikan pendidikan pasca sarjana di bidang fisika teoritis. Pada tahun 1999 Hans juga pergi ke Universitas Durham, Inggris dan mendapat gelar Ph.D pada tahun 2002.

Pada awal tahun 1980-an, sambil melanjutkan studi pasca sarjananya, Hans pernah mengadakan riset bersama Martinus J.G. Veltman di Utrecht, Belanda. Veltman adalah Fisikawan peraih nobel fisika tahun 1999. Ketika pindah ke Ann Arbor, Michigan, Amerika Serikat, Veltman ngotot mengajak Hans untuk bersama-sama dengannya melakukan riset di sana. Hal ini menunjukan bahwa Hans adalah fisikawan yang cemerlang.

Hans Wospakrik adalah mantan seorang fisikawan Indonesia yang merupakan dosen fisika teoritik di Institut Teknologi Bandung. Hans adalah seorang yang mendapatkan penghargaan fisikawan terbaik oleh Universitas Atma Jaya Jakarta atas pengabdian, konsistensi, dan pengorbanannya yang tinggi dalam penelitian di bidang fisika teori. Ia memberi sumbangan berarti kepada komunitas fisika dunia berupa metode-metode matematika guna memahami fenomena fisika dalam partikel elementer dan Relativitas Umum Einstein. Hasil-hasil penelitiannya ini dipublikasikannya di jurnal-jurnal internasional terkemuka, seperti Physical Review D, Journal of Mathematical Physics, Modern Physics Letters A, dan International Journal of Modern Physics A.

Dengan tujuh hasil penelitian yang menembus jurnal internasional terkemuka, tiga hasil penelitian diterbitkan jurnal online yang bersifat internasional, tak terhitung penelitiannya yang diterbitkan jurnal dan prosiding dalam negeri, serta menghabiskan waktu sebagai pegawai negeri mengajar dan membimbing mahasiswa di ITB, Dr Hans J Wospakrik yang meninggal pada 11 Januari 2005 dihargai pemerintah hanya sampai golongan IV-A, lektor kepala. Setelah mengetahui publikasi Hans yang menembus Physical Review D, padahal waktu itu Hans masih dengan gelar sarjana, belum PhD, Prof Dr Ryu Sasaki dari Institut Fisika Teori Yukawa di Kyoto, Jepang geleng-geleng kepala mengetahui Hans hanya dihargai pemerintah dengan golongan pangkat yang tidak memadai. Prof Dr Ryu Sasaki mengatakan bahwa bila menggunakan syarat-syarat di Jepang, Hans adalah satu dari sedikit ilmuwan di Indonesia yang berhak mendapat gelar profesor.

Santun, ramah, dan penolong. Inilah kesan yang dibawa setiap orang yang pernah berjumpa dengan Hans. Sikap ini tidak hanya diperlihatkannya secara alami kepada rekan-rekannya sesama pengajar, tetapi juga kepada mahasiswa-mahasiswanya. Sebagian besar kawan-kawannya dan mahasiswanya mengatakan belum pernah melihat Hans marah. Paling-paling dia diam kalau ada yang tidak berkenan di hatinya. Diam itu pun biasanya segera cair.

Sebagai pegawai negeri, Hans memperlihatkan hubungan berbanding langsung antara gaji dan kehidupan. Pada sebagian besar pegawai negeri, hubungan gaji dan kehidupan adalah berbanding terbalik sebab dengan gaji kecil (gaji pokok pegawai dengan golongan tertinggi IV-E tidak lebih dari Rp 4 juta), banyak pegawai negeri punya rumah lebih dari satu, mobil lebih dari satu, deposito dalam orde miliar rupiah. Hans selama hidupnya sebagai pegawai negeri tidak sempat memiliki rumah, tidak pernah memiliki mobil, bahkan sepeda motor. Setiap tahun ia harus memperbarui kontrak rumahnya, ke kampus naik angkot. Tak jarang ia pulang malam dari kampus jalan kaki setelah menempuh tujuh kilometer sebab angkot menuju rumahnya sudah tidak beroperasi lagi. Dalam hal ini, satu lagi predikat harus disematkan ke pundaknya : Pegawai Negeri Terbaik.

Kebaikan-kebaikannya inilah yang menumbuhkan pilu ketika menyaksikan bagaimana rumah sakit memperlakukan seorang fisikawan Indonesia yang luar biasa ini di akhir hidupnya. Karena kekurangan uang panjar, dua hari pertama Hans yang menderita leukemia itu tidak mendapatkan obat dari rumah sakit tempat ia terakhir dirawat. Begitu ada uang tambahan, barulah rumah sakit mulai memberikan obat. Beberapa jam setelah itu Hans mengembuskan napasnya yang terakhir. Di kamar jenazah, tubuh Hans harus menunggu suntik formalin karena keluarga harus pontang-panting mengumpulkan uang sebanyak Rp 1 juta. Kartu kredit tidak berlaku di ruang jenazah itu. Dokter menunggu uang terkumpul. Untung ada Karlina Supelli, seorang yang bertanya ke dokter, “Saya punya beberapa dollar dan rupiah yang kalau dikumpulkan sekitar Rp 1 juta. Apakah ini dapat diterima?” Sang dokter langsung memungut uang itu dan formalin seketika disuntikkan. Karlina adalah adik kelas Hans di ITB. Karlina di Departemen Astronomi, Hans di Departemen Fisika. Keduanya mendalami kosmologi. Keduanya menulis skripsi dengan pembimbing yang sama: Dr Jorga Ibrahim. Keduanya lulus cum laude.

Dari Atomos Hingga Quark adalah sebuah buku hasil karya Hans yang menceritakan mengenai pencarian manusia sepanjang sejarah mengenai penyusun terkecil dari materi-materi alam ini. Berawal dari Yunani di mana para filsuf saat itu berfilsafat mengenai penyusun terkecil setiap materi, Jazirah Arab yang disinggung oleh Hans sebagai pemegang “obor pengetahuan” berikutnya setelah Yunani, ilmu alkemi, reaksi nuklir yang “menceritakan” pada kita tentang keberadaan atom, proton dan neutron, sampai temuan saat ini mengenai satuan materi yang lebih kecil, yaitu quark. Pada halaman depan buku tersebut, Prof. Dr. Martinus J.G. Veltman mengatakan : “Dari publikasinya … saya lihat dia betul-betul terus bekerja sebaik mungkin dalam teori partikel. Orang seperti Hans besar sekali nilainya buat negeri yang mulai memasuki komunitas riset dunia. Kita merasa kehilangan”. Dia adalah ilmuwan terbaik (Indonesia) yang pernah kita miliki.


Ada 9 Komentar

  • mario says:

    terimakasih bapak….jasamu tidak pernah kami lupakan!!!

  • Supri says:

    Salute buat Bpk Hans. Sperti inilah bangsa kita yg tidak menghargai Ilmu pengetahuan, Semua dibutakan oleh uang.

    Terima Kasih Prof Hans, anda telah membuat dunia berpikir atas kejeniusan anda. Selamat Jalan Pahlawan Bangsaku

  • romy says:

    hormat kami buat Bapak Hans….

  • I Made Rincim Astawa says:

    Setelah membaca tulisan diatas, saya meneteskan air mata.
    Beliau pintar,sederhana,dan jujur.
    Namun kenapa mendapatkan perlakuan seperti itu….
    betul-betul tidak manusiawi
    Buat keluarga yang di tinggalkan semoga mendapatkan kekuatan, percayalah Bpk Hans …. is the best

  • Arif says:

    Sungguh luar biasa bangsa ini.
    orang yang memiliki potensi dan jasa yang luarbiasa, diabaikan….
    bagi para ilmuwan teruslah berkarya…….
    kadang namamu tak dikenang, Namun jasamu akan terus ada sepanjang ada kehidupan………….
    :)

  • nazhira says:

    indonesia pasti sangat bangga memiliki orang spt bapak… ^^

    • atan says:

      Terima kasih bapak (pace) atas sumbangan pemikiran cemerlang bagi komunitas fisika dan tentunya bagi masyarakat sejagad ini. Bapak jasamu ini takkan dilupakan. Engkau laksana Fajar Timur yang hadir memberi terang kepada bangsa ini. Engkau membuka mata penguasa negeri ini bahwa putera/i negeri cenderawasih, daerah yang dinilai tertinggal tetapi dapat menghasil kekayaan intelektual yang luar biasa. Engkau membuktikan bahwa negeri ini tidak hanya menyimpan kekayaan alam yang berlimpah tetapi juga kegeniusan, intelek penghuninya.
      Bapak, ragamu memang tiada tetapi jiwamu, dedikasimu dan idemu tak lenyap ditelan waktu dan masa yang kini terbuai dalam Uang. Kekhasaan Papuamu yakni geneius tetapi rendah hati, sederhana mengundang pujian dan junjungan kitong yang masih muda ini. Kami akan terus berusaha mengikuti jejakmu lewat pengabadian kami.
      Cara hidupmu, pengabdianmu, ketekunanmu dan kesederhanaanmu menyadarkan masyarakat yang saat ini berlomba-lomba mengejar kedudukan empuk demi uang. Dengan cara komitmenmu untuk tetap menjadi dosen, peniliti, engkau menegur kaum intelektual yang cemerlang dari negeri ini yang sudah dan akan mengubah haluan menuju bidang lain..
      Bapak kami bangga karena kami punya kakak, saudara, om, ipar dan bapak seperti engkau. Kebanggaa kami ini tidak hanya sebatas bangga di bibir saja tetapi akan kami wujudkan. Kami akan berusaha mendidik kitong pu adik-adik yang memiliki potensi yang sungguh luar biasa tetapi hanya karena kesempatan dan medium yang tidak mendukung..
      Engkau membuktikan bahwa kitong dari ufuk timur negeri ini menyimpan kekayaan intelektual yang luar biasa. Engkau membuka jalan bagi ade-ademu. Buktinya bahwa Oge Saa dan N. Bowaire dan yang belum sempat disebutkan dan yang akan mengikuti jejakmu terus mengalir bagai air dari negeri ini..
      Terima kasih bapa karena mengharumkan nama negeri kita!!
      Kami yakin dan percaya semoga bapa diterima di sisi Bapa dan mendapat tempat yang layak bagimu seturut amal bhaktimu..

  • metha says:

    yah,, indahnya negeri kita, yang telah menyianyiakan ilmuwan hebat seperti ini, andai di negeri ini semua orang seperti pak hans dihargai karyanya pastilah banyak orang hebat sekarang,,


Tinggalkan pesan








Alexander San Lohat













Postingan akan dikirim ke emailmu. Silahkan mendaftar.. Baca petunjuk penting setelah anda klik daftar.

Email
Nama